TERAS TEPI RUMAH

Teras tepi rumahku selalu saja sepi, mungkin kalau kamu ada disini akan terasa lebih menyenangkan. Kalau kamu berkenan, aku ingin bercerita, dengarkan kalau kamu punya waktu luang ya!

Aku harap kamu tidak pernah bosan berkunjung ke teras tepi rumahku, jangan sungkan untuk datang!

Iklan

Titik Nadir

Nampaknya kau sudah sampai di titik ini juga teman. Bagaimana perasaanmu? Ya seperti inilah keadaannya, cukup tidak menyenangkan bukan? Tapi aku pikir kau telah memperhitungkannya sebelum perjalanan ini. Apa? Kau tidak memperhitungkannya? Menyedihkan sekali. Andai aku berada di sana saat itu tapi biarlah itu sudah terlanjur.
Silahkan duduk teman, kau harus istirahat sejenak.

Lalu bagaimana? Kembali ke masa kecilmu itu? Ah, masa kecil. Aku ingat saat di mana aku pertama kali menerbangkan layang-layang bersama kerabatku, menarik-ulurnya di langit sore yang begitu cerah dengan tiupan angin yang bergemuruh. Kita adalah sang penakluk. Begitu juga dengan semua kenangan indah : buayan kasih ibu dan nyanyian sebelum tidur. Menyenangkan sekali bukan? Pada awalnya aku pun tidak ingat persis kapan pertama kalinya perjanjian ini aku sepakati. Tapi hidup, seperti inilah adanya. Barangkali itulah sebabnya mengapa jerit tangis terdengar saat kita terlahir.

Apa ini semacam permainan melempar dadu? Kukatakan terlebih dulu, ini bukan lelucon. Kau harus tahu itu. Kita telah disirami berbagai hal dan kita tumbuh, kita menentang dan aku tahu kau pun begitu. Tidak, tidak mungkin ada pencapaian mutlak dan kita tidak pernah bisa memutuskan. Tentu, oleh karenanya kau berada di sini, tapi pernahkah kau pikirkan sebabnya? Sebaiknya kau harus segera bersiap untuk perjalanan berikutnya.

Indah bukan pemandangan di atas sini? Segalanya terlihat begitu jelas, tidak ada satu pun yang terlewatkan. Kau tahu tidak ada yang lebih menggairahkan selain berada di atas puncak segala sesuatu. Kita seakan tidak pernah mengenal segala macam penolakan, pengasingan atau hal lainnya. Kita pun mengetahui Tuhan bertahta di atas sana. Cukup masuk akal bukan? Juga bertanya mengapa tidak menjadi salah satu bagian dari pemuda tetidur [¹] berlari dari kebanalan hidup, tertidur untuk tiga abad lamanya dan selamanya. Mudah sekali, kuasa yang menakjubkan. Ya aku tahu, kau dan aku saling merindukannya. Satu hal yang perlu kau ketahui, aku melewati semuanya dengan segala yang aku miliki. Begitulah aku nikmati setiap air kehidupan yang menetes hingga detik ini. Pernah suatu saat aku mencoba untuk terus menghitung hari demi hari dengan harap nanar yang penuh jemu dan sesak. Pada satu malam dengan cahayanya yang redup, aku melihat bulan bagai cerminan dari raut wajah wanita tua yang rapuh. Aku terbaring dalam balutan puing-puing reruntuhan segala kemunduran. Aku mencoba sekuatnya hingga mata ini terpejam. Namun sayang, nyatanya pagi datang kembali.

[¹]  Al-Quran : Pemuda Kahfi

Mitologi Kristen : The Seven Sleepers – Tujuh Orang Petidur

 

Di Ambang Pintu

Beberapa ikat bunga tentunya bukan hal yang asing dan sudah sangat lazim. Namun bayangan percakapan tentang menyemai benih, pupuk organik dan hama-hama yang berusaha hinggap pada bunga ini tentu akan menyenangkan hatinya. Lalu setelahnya ia akan memintaku untuk menunggu beberapa menit saja, berlari dengan tangkas ke dalam rumah, mengganti rias wajahnya lalu kembali dengan segelas teh hangat dan satu jar kecil biskuit. Karena kedatanganku mungkin sedikit membuatnya terkejut, tentu aku anggap hal-hal itu sebuah kewajaran, bagaimanapun juga ia tetap sama. Itulah yang ada dalam pikiranku pada ketukan pertama.

Sepuluh menit berlalu. Dan di ambang pintu aku masih menepuk-nepukan punggung tanganku pada bahuku yang gamang walau tak kutemukan suatu alasan sehat untuk apa aku melakukannya. Ataupun mengibaskan jari-jariku pada kelopak bunga ini yang sejak tadi tidak henti-hentinya tersenyum kecut ke arahku. Aku pun segera merasakan kecemasan-kecemasan itu datang menyergap di balik kerah bajuku. Entah pertanggungjawaban apa lagi yang akan aku siakan. Pada wangi bunga ini cambuk berada dan siap melecut kapan saja, karena ia berada tepat di pangkuanku. Terkadang aku mengambil langkah berputar, setidaknya aku harus terlihat berusaha. Aku berkata pada diriku sendiri ; “Mungkin keluar sejenak” atau “Sesuatu telah terjadi” atau mungkin?

“Kau benar..” aku berkata pada bunga dan tanpa perlu aku teruskan lagi kata-kataku. Aku harus berhenti untuk mengasihani diri dan aku tidak mungkin bertahan lebih lama sedang di atas lantai ini bumi terasa berputar lebih cepat. Tanpa merasa terbebani dan sedikit lagi usaha terakhir untuk meyakinkan. Ia memang tidak melukai siapa pun ; namun ingatan tentang suara ketukan yang kesembilan kalinya itu cukup menyakitkan hatiku.

Mimpi

Suara keangkuhan itu terus mengikuti langkahmu. Di atas sana, matahari terlihat menyebrangi langit kota untuk memenuhi segala tuntutannya. Pada jalanan yang retak, atap rumah dan senyum hangatmu pada nasib seorang lelaki tua yang terbaring lemah di sudut trotoar. Ketika kau terus mengayunkan langkah kaki dengan tenang hingga berhenti sejenak untuk mengamati bayanganmu hanya akan menimbulkan keraguan, saat sekawanan merpati mengerahkan segala perhatiannya tentang masa depan pada kepalan tangan anak kecil yang tidak begitu kuat namun jujur. Kau menempatkan lagi pikiranmu di jalan ini ; jalan yang dulu tergenang air ludah yang melayang dari setiap jendela rumah. Begitulah caranya kau menikmati suara deru sepatumu yang kau dapat ketika kau menderukan suaramu di balik ruang kecil, pada suatu hari di musim panas.

Sayap-sayap Gugur

Seolah baru hari kemarin kau melihat wajahnya yang bersinar cerah dan kini kau merasa ada sesuatu yang salah. Keremangan senja dari langit barat mengirimkan isyarat yang serupa seperti wajah itu. Wajah yang tabah pada setiap perubahan yang selalu terjadi dalam siang dan malam.

Untuk sekejap saja kau merasa malu. Tentang pengaduan-pengaduan, bantahan atau keluhan kosong yang kau lontarkan hanya dengan mulutmu, tidak dengan kepalamu. Kau berkaca pada sebuah cermin dan karenanya kau menutup wajahmu. Kau hitung helai demi helai rambutnya yang memutih dan jatuh terkulai pada lantai karena taat pada usia.

Ia sepenuhnya mengerti atas apa yang kau butuhkan tanpa harus kau pinta. Ketika kau kecil, dinina-bobokannya saat kau menangis dan tak lama setelah itu kau tertidur dibuatnya. Ingin sekali ia tidur, tapi dilupakannya rasa kantuknya untukmu. Tapi bila ia tertidur pun, bila kau mampu melihatnya sedikit lebih dekat, hanya matanya lah yang terpejam, namun tidak untuk pikirannya. Ia terjaga dalam tidurnya.

Ibu; begitu kau sebut namanya, begitu hebat perangainya karena kau lihat sayap-sayap membentang di balik punggungnya. Namun seperti halnya rambutnya, satu persatu bulu-bulu di sayapnya gugur tapi tidak tertanggalkan percuma, ia menjadi tenaga bagi setiap bagian terkecil dalam tubuhmu, menjadi rumah untuk tempatmu berteduh, menjadi pakaian yang kini membuatmu terlindung dan selebihnya menjadi sayap-sayap kecil yang kini tumbuh di balik punggungmu, berharap sempurna.

Percaya

Karena tidak ada lagi yang harus kau kerjakan dan tak ada selembar pun uang dalam saku bajumu yang dapat kau tukar dengan tumpukan kalimat para pendahulumu. Lalu kau mulai menimang atas apa yang sudah kau lalui selama ini. Pada setiap tikungan atau persimpangan jalan juga peringatan-peringatan yang kian hari kian lenyap oleh debu. Kau mulai percaya bahwa kehilangan yang kau sebutkan hanyalah igauan saja. Bahkan dari balik punggung gadis yang semakin menyusut termakan jarak itu hanyalah cerita yang kau lebih-lebihkan saja. Tidak ada kegelapan melainkan ketiadaan cahaya, tidak ada sunyi melainkan hanya ketiadaan bunyi. Sungguh, semua menjadi nyata saat kau percaya. Debu-debu terbang di udara.

Kontemplasi

Rintik hujan memecah sunyi sore hari. Kau melipat ujung kertas pada suatu halaman yang tengah kau baca. Hai..” bisikmu pada hujan. Perciknya semakin terdengar jelas saat kau menutup seluruh halaman. Untuk sesaat kau terhanyutkan oleh nyanyian hujan yang sedang melantun halus di telingamu. Selalu saja begitu; melankolia, nostalgia menyembul dalam kepalamu, merekahkan mimpi utopis dari jiwa yang layu. Terbuang sesaat dari cengkraman waktu yang tengah melaju di antara hari esok dan lalu.

Kau tidak pernah mengerti dan tidak mampu untuk berlari. Butir hujan membasahi segalanya tanpa mengenal apa atau siapa. Bermenit-menit, berjam-jam. Kontemplasi kiranya menjadi keniscayaan. Di antara hari-hari bising, wajah-wajah asing dan hingar-bingar dunia yang begitu memilukan namun indah.

Dunia telah memilihmu. Resapilah upacara purba ini. Mencari apa yang tak mereka miliki. Nikmatilah, hingga suatu saat hujan tidak turun lagi, tidak dalam hatimu.

Tak Perlu Lagi

Mungkin saja kau sudah merasa utuh disana. Sehelai baju hangat yang melekat di tubuhmu, segelas air hangat juga dada yang lapang untuk membenamkan seluruh kepalamu dan segala isinya. Perihal cuaca yang berubah-ubah kini mampu untuk kau siasati dengan mudah. Tak perlu kau cemaskan lagi hujan yang dulu biasa membasahi rambutmu yang pekat itu ketika aku dan dirimu duduk berdua tanpa sedikit pun kata. Tak perlu aku cemaskan lagi dirimu di sana.